April 13, 2025
Saturday, March 10, 2012

6/3/12 jangan kau matikan dengan ucapan selamat tinggal














engkau padaku adalah pepohon rendang
saat kepanasan biarlah aku berteduh nyaman
saat aku sepi biar aku baring dalam damai bayangmu
terlentang lena menghitung unggas di lengan-lenganmu
nyenyak terhibur deru bayu mengurai rambut-rambutmu


dan aku
biarlah aku jadi seorang petani penuh bakti pengorbanan:
saat buahmu ranum berguguran, biar aku semai biak beneh-benehmu
saat engaku layu kedahagaan, biar aku sirami engkau walau betapa payah air kudapati
saat rambut-rambutmu berguguran, biar aku kumpul jadi unggun menghangatkan
saat lengan-lenganmu patah, biar aku membalut luka-lukamu menunas


engkau pepohon, aku petani
kasih kita terputus jangan
biar sejuta kali engkau ucapkan selamat tinggal
mengertilah:
malam pasti berganti siang dan sebaliknya
hujan pasti berganti panas dan sebaliknya
ribut pasti berganti teduh dan sebaliknya
tangis pasti berganti tawa dan sebaliknya

segalanya berputar berkisar
berulang-ulang
Ilahi segitulah peraturan tabiiNya

keikhlasan adalah pertaruhanku nan abadi



tebing sungai kelantan, kota bharu
11 march, 2012

2 comments :

  1. I happen to be here. I truly casnnot make head or tail what you are, apart from being from Kelantan. When I read poem I told myyself that I should at least leave a few words, thet this poem is beautiful.

    Salaam to you

    ReplyDelete
  2. Sorry friend, I'm not a Kelantanese, but have good knowledge of the State. Ya....poem is best known to the writer. For others, they are free to interpret as they wish. Thanks

    ReplyDelete

Back To Top